LIVE Update COVID-19

Ini Tempat Kerja yang Bisa Membuat Kamu Berkembang

Samuel Amarta

Jan 28, 2020

97 dilihat

article_image

“Bagaimana cara memilih perusahaan yang bisa mendukung kita untuk belajar dan terus berkembang?”

 

Pertanyaan ini sering kali ditanyakan ketika saya menjadi pembicara di berbagai seminar. Tidak hanya oleh fresh graduate, tapi juga oleh mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja. Mengapa? Karena semakin banyak karyawan yang menyadari pentingnya untuk mengembangkan diri namun kecewa karena perusahaan tempat mereka bekerja tidak mendukung atau bahkan membatasi pengembangan diri karyawan. Dalam banyak kasus, saat interview kerja, perusahaan menjanjikan bahwa di organisasi ini karyawan dapat belajar dan berkembang, namun kenyataannya ketika karyawan, misal, ingin mengikuti training atau mau mencoba mengerjakan hal baru, perusahaan tidak memberikan ijin dan tidak memberikan alternatif solusi supaya karyawan tersebut bisa berkembang.

Nah, supaya nggak salah pilih, coba 3 cara ini untuk mencari tahu apakah perusahaan yang kamu lamar, punya komitmen untuk mendukung pengembangan diri karyawannya atau tidak.

Pertama, cari tahu apakah di perusahaan itu sering mengadakan pelatihan atau mengirim karyawan mereka untuk mengikuti training. Tentunya hal ini jamak dilakukan oleh perusahaan besar yang sudah well-established karena mereka sudah mengalokasikan budget untuk training. Namun demikian, perusahaan ­start-up atau UKM pun bukan berarti tidak ada yang melakukan ini, contohnya Telunjuk.com, sebuah start-up technology yang bergerak di industri e-commerce, setiap tahun perusahaan ini selalu membuat anggaran biaya training untuk seluruh karyawan. Satu hal yang menurut saya juga sangat menarik dan inovatif adalah, dengan budget tersebut, Telunjuk.com mendorong karyawannya untuk self-learning, seperti belajar melalui online course yang membuat karyawan dapat belajar dengan fleksibel. Contoh lainnya adalah DANA.ID, saya sangat kagum karena suatu waktu perusahaan ini pernah berhasil membuat 500 lebih karyawannya untuk mengikuti pelatihan tentang “Hacking Resilience” dalam kurun waktu 4 bulan. Yang menarik adalah perusahaan ini tidak hanya melatih hard skills tetapi juga soft skills seperti mindset, purpose, self awareness, dan sebagainya.

Tapiiii… Komitmen mengembangkan karyawan tidak melulu soal anggaran pelatihan yang besar, melainkan lebih kepada komitmen untuk selalu konsisten melakukannya. Jadi, kalau ada perusahaan yang belum punya anggaraan untuk pelatihan, jangan buru-buru ilfeel ya, lihat dulu poin ke-tiga dibawah ini.

 

Kedua, cari tahu apakah di perusahaan tersebut banyak karyawan yang pernah dirotasi dalam pekerjaannya atau diberikan lingkup pekerjaan baru. Apa hubungannya dengan belajar? Karena cara belajar yang besar dampaknya adalah ketika kita mengerjakan suatu pekerjaan yang baru sehingga menantang kita untuk keluar dari zona nyaman. Apabila suatu perusahaan tidak pernah mengijinkan karyawannya untuk dirotasi atau diberikan pekerjaan baru, (padahal karyawan menginginkannya), bagi saya itu sudah menunjukkan bahwa perusahaan itu tidak mendukung pembelajaran si karyawan. Sebaliknya, apabila perusahaan mau merotasi karyawanya berarti mereka percaya bahwa karyawan tersebut bisa belajar hal baru. Penting sekali bekerja di perusahaan dengan manajemen yang percaya bahwa kita sebagai karyawan bisa belajar dan berkembang, atau yang saya sebut punya ‘growth mindset’.

Ketiga, cari tahu apakah perusahaan itu punya ritual atau kebiasaan yang mendorong karyawan untuk belajar atau berkembang. Ritual yang saya maksud adalah segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi budaya perusahaan tersebut. Kembali saya ambil contoh dari Telunjuk.com dimana perusahaan ini mempunyai ritual belajar bagi karyawannya yaitu Kamis Berbagi atau KamBer. Apa itu? Yaitu setiap hari Kamis, karyawannya secara bergantian sharing tentang knowledge apapun baik yang terkait dengan pekerjaannya atau yang terkait dengan perusahaan. Dan bahkan Telunjuk.com juga sering mendatangkan pembicara tamu yang sudah expert di bidangnya untuk berbagi cerita tentang keahlian mereka. Kalau diperhatikan, aktivitas semacam ini tidaklah membutuhkan dana alias gratis. Jadi tidak ada alasan bagi perusahaan start-up atau UKM yang belum mempunyai anggaran khusus untuk pelatihan, untuk tidak mempunyai ritual belajar. Jika memang suatu perusahaan benar-benar komitmen untuk pembelajaran dan pengembangan karyawannya, mereka bisa memikirkan cara-cara inovatif yang tidak membutuhkan biaya untuk menumbuhkan budaya belajar.

Contoh lainnya adalah perusahaan saya sendiri, F Project. Saya mewajibkan bagi karyawan saya, baik karyawan tetap maupun karyawan magang untuk selesai membaca buku Growth Mindset. Ini juga merupakan suatu inisiatif apabila perusahaan belum memiliki budget yang besar untuk pembelajaran karyawan, bisa memulainya dengan membelikan satu buku dan dirotasi untuk dibaca oleh karyawannya dan kemudian karyawan dapat diminta untuk sharing tentang pembelajaran apa yang didapatkan dari buku tersebut.

Itulah 3 cara untuk memilih tempat kerja yang bisa mendukung pengembangan diri kamu. Tapi ingat ya, pada akhirnya pengembangan diri adalah tanggung jawab kita sendiri, perusahaan hanya sebagai salah satu fasilitas pendukung. Jangan pernah menyalahkan keadaan bila kita merasa tidak berkembang, namun manfaatkan  keadaan dan fasilitas yang kita punya untuk senantiasa belajar.